Home > Ekonomi & Bisnis, Hanya di Purbalingga, Kota > Pasar Segamas Purbalingga Jadi Percontohan Nasional

Pasar Segamas Purbalingga Jadi Percontohan Nasional

Di balik beberapa masalah yang dikeluhkan pedagang, Pasar Segamas di Purbalingga mendapat apresiasi dari luar. Pasar induk yang dibangun dengan anggaran Rp 25 miliar itu menjadi Juara I Lomba Pasar Tradisional se-Provinsi Jateng 2010.

Pasar yang dibangun pada 2009 itu mengalahkan pasar-pasar tradisional lainnya. Juara II diraih Pasar Wisata Tawangmangu, Karanganyar, sedangkan juara III Pasar Gading, Kota Surakarta. Penghargaan diserahkan Gubernur Bibit Waluyo pada akhir Desember 2010.

Keunggulan Segamas dibandingkan dengan pasar tradisional lain di Jateng, menurut Kepala Disperindagkop Purbalingga Bambang D Sumarsono, adalah pada sisi pengelolaan manajemen dan penataan kawasan lingkungan. Juga dukungan regulasi yang kuat dari peraturan bupati hingga peraturan daerah (perda).

Miliki Perda

“Mungkin satu-satunya pasar tradisional yang mempunyai perda baru Segamas. Satu-satunya pasar tradisional yang di tengahnya ada taman juga mungkin hanya di Segamas. Selain itu, pasar dilengkapi CCTV, zonasi pedagang, satpam, petugas kebersihan, dan kantor,” tutur Bambang, kemarin.

Wajar apabila kemudian muncul wacana Segamas akan dijadikan percontohan pengelolaan pasar tradisional secara nasional. Wacana itu disampaikan oleh Dirjen Perdagangan Kementerian Perdagangan Fredy Hasan Basri saat bertemu Bambang D Sumarsono, beberapa waktu lalu.

Di samping itu, berkat sejumlah poin plus yang dimiliki pasar induk yang terletak di Jalan Mayjen Sungkono tersebut belakangan kerap menjadi tujuan studi banding. Di antaranya DPRD dan Wakil Bupati Banyumas, serta Dinas Perdagangan Kota Surakarta. Ada juga beberapa daerah yang menyatakan akan mengunjungi Segamas.

Secara keseluruhan luas area Segamas 41.548 m2. Luas bangunan baik blok di dalam pasar maupun kantor 15.364 m2. Ditambah area parkir 3.149 m2 dan taman 1.035 m2 sehingga luas terbangun 19.854 m2. Masih ditambah area rumah pemotongan hewan (RPH) unggas 1.182 m2. Jumlah kios dan los pada 2010 masing-masing sebanyak 383 dan 656. Jumlah pedagangnya 2.174 orang.

“Tujuan pembangunan pasar tradisional modern ini adalah untuk menghilangkan kesan pasar tradisional yang kumuh dan becek lewat pengelolaan yang baik,” ujar Bambang.

Pasar tradisional yang dibangun berkonsep modern, termasuk pengelolaan dan manajemennya diharapkan membuat para pembeli dapat merasakan berbelanja seperti di pasar modern. Dengan demikian pasar itu mampu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan para pedagang kecil.

“Soal masih ada beberapa masalah, saya yakin di pasar mana pun selalu ada. Sebuah kebijakan tentu tidak akan bisa memuaskan semua pihak. Namun, saya optimistis sepi dan ramainya pasar hanya masalah waktu. Kami tetap berupaya meramaikan pasar Segamas,” tandasnya.

Sumber : Suara Merdeka

  1. February 2, 2011 at 7:18 pm

    Keren keknya tuh Pasar, kaya gimana ya?

    Soalnya pasar-pasar di Bandung sini kebanyakan kotor dan bau. Fasilitas pun minim!

  2. February 3, 2011 at 1:01 am

    Turut bangga sebagai orang yang ber KTP purbalingga… 🙂
    semoga saja benar-benar mampu menjadi contoh.

  1. February 12, 2011 at 11:24 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: